BLOG INI MASIH DALAM TAHAP SOFT LAUNCHING, MOHON DUKUNGANNYA UNTUK MENYELESAIKAN KONSTRUKSI, LESTARIKAN ALAM INDONESIA Indahnya Alam Kita - pegunungan, alami, gunung, petualangan, adventure

Monday, 16 February 2009

Agustus 2008, Semeru Jilid 2

. Monday, 16 February 2009 .

    Setelah sempat vakum beberapa bulan karena sibuk mengupdate blog saya yang lain, kali ini saya akan pamer foto ketika saya dan 12 teman melakukan pendakian ke Semeru. Alhamdulillah pada tahun ini kami dapat meyaksikan letusan dari kawah gunung tertinggi di pulau Jawa ini.

Foto-2 berikut adalah ketika kita membeli perbekalan di kota Tumpang, di depan pasar Tumpang.

DSC02422 DSC02424 DSC02425

 

 

DSC02427

Foto di samping diambil ketika kami berada di pos pertama desa Ranupane. Lho koq cuma 12 orang? yang satu lagi ambil gambar.

 

 

 

 

 

Setelah siap kami memutuskan memulai perjalanan dengan tujuan danau Ranu Kumbolo. Sayangnya dalam perjalanan kami tidak bisa mengambil gambar, jadi langsung saja ke foto-2 di Ranu Kumbolo ketika kami baru bangun tidur.

DSC02430 DSC02433DSC02434

 

Berikut adalah foto-2 ketika Sang Fajar sudah mulai “merangkak” naik.

DSC02436

Bisa kita lihat betapa banyaknya pendaki yang memilih hari kemerdekaan ini untuk melakukan pendakian.

 

 

 

 

 

DSC02437 DSC02440 DSC02444

Di atas adalah 2 foto yang diambil ketika matahari terbit di antara 2 bukit yang indah.

DSC02446

Kedinginan ya???koq ga’ mau keluar.

Suhu di area danau ini sekitar 5 derajat celcius. Bahkan jika musim kemarau, suhu bisa mencapai 0 derajat celcius dan menyebabkan bunga-2 salju/es yang lembut menempel di tenda.

 

 

 

DSC02447

Mas Sugik sepertinya juga kedinginan

 

 

 

 

 

 

DSC02448

Yang lagi pake sepatu itu saya, sedangkan yang peke jaket biru ayahku.

 

 

 

 

 

DSC02449 DSC02450

Mas heru dan mas Santo lagi masak apa ya?

DSC02452

Mas Ipul lagi sikat gigi. Emang bisa ilang bau mulutnya he…

 

 

 

 

 

 

DSC02456 DSC02457

Sebelum melanjutkan perjalanan kami sempat berfoto bersama seorang kakek(foto kiri, 3 dari kanan, berdiri).

 

Di bawah ini adalah foto-2 ketika kami mendaki bukit cinta. Mitosnya jangan lihat ke belakang dan berdoalah untuk seseorang yang ditaksir.

DSC02443 DSC02458 DSC02459

 

Berikut foto-2 ketika puncak Semeru mengeluarkan asap yang diambil dari Oro-2 Ombo.

DSC02460 DSC02461

 

Yang berikut adalah foto-2 ketika diambil di Sumber Mani untuk mengambil air.

DSC02468

Sambil menunggu saya mengambil air, Mas Santo dan Mas Sugik tidur-2 an.

 

 

 

 

 

DSC02471

Yang ambil air gantian, sedangkan saya sholat dulu.

 

 

 

 

 

 

Berikut adalah foto-2 yang diambil ketika berada di Kalimati, 1 km arah kiri Sumber Mani.

DSC02472 DSC02474 DSC02475 DSC02476

Kami melanjutkan perjalanan ke batas vegetasi terakhir, Arcapada. Kami sampai di sana sekitar jam 5 sore, sehingga saya tidak sempat untuk mengambil foto dikarenakan juga hawa dingin yang mulai menusuk tulang. Namun, ketika kami kembali dari puncak, kami sempatkan foto di sana dulu.

DSC02479

Foto apa ini?

Dini hari sekitar pukul setengah satu kami memulai pendakian ke puncak Mahameru dari basecamp terakhir, Arcapada. Foto di samping adalah foto gerhana bulan. Memang pada tanggal 17 Agusutus sudah ada berita tentang fenomena alam ini.

 

 

 

Alhamdulillah, akhirnya kami sampai di puncak Mahameru sekitar pukul setengah empat pagi. Walaupun perjalanan kami “diantar” badai, kami semua dapat meraih puncak tertinggi di Jawa dengan selamat.

Sedikit cerita, pada hari itu suhu di puncak mencapai minus 5 derajat celcius. Jadi, walaupun tidak mengenal pendaki lain, kami saling dempet mencari kehangatan. Ada seorang pendaki yang berteriak, “Ayo yang jauh mendekat, yang dekat merapat”. Menurut mas Ipul yang sudah berulang kali ke puncak Mahameru, hari itu adalah paling buruk cuacanya. Menurutku itu adalah pengaruh gerhana bulan yang membawa angin ke daratan, sehingga juga menimbulkan air laut pasang. Rasional Kan?

DSC02480

Fajar akhirnya muncul setelah beberapa jam kami diselimuti hawa yang paling dingin yang pernah kami rasakan(menurutku juga). Walaupun begitu, suhu mungkin hanya naik sekitar 1-5 derajat celcius. Ha???

 

 

 

 

Berikut foto-2 ketika Semeru mengeluarkan letusannya.

DSC02482 DSC02483DSC02484

DSC02486

DSC02488Negeri di atas awan. Berlantaikan awan putih. Tampak di ujung sana mentari belum menunjukkan tubuhnya secara utuh.

 

 

 

 

 

Beberapa menit kemudian, muncul lagi letusan.

DSC02489  DSC02490 

DSC02491 Sedikit demi sedikit, mentari mulai menampakkan tubuhnya secara utuh.

 

 

 

 

 

Keluar lagi letusan dari kawah Jonggrang Saloko.

DSC02493 DSC02495 DSC02496

Lho koq ada bendera PLN?

Sebagai karyawan, sah-2 saja kan Ayah bawa bendera.

 

Setelah dianggap cukup, kami memutuskan untuk kembali ke basecamp Arcapada.

DSC02497 DSC02498 DSC02499

DSC02500

Setelah sampai di Arcapada, kami beristirahat sebentar sambil menikmati makanan. Berikut foto-2 di Arcapada hingga kami bersiap untuk berangkat turun.

DSC02501 DSC02502

 

Berikut perjalanan ketika melewati Kalimati. Jalur untuk pendakian dan jalur pulang adalah sama.

DSC02504 DSC02505DSC02507

DSC02508

Berikut adalah foto-2 ketika kami melewati jambatan pohon. Sebenarnya kita bisa melewati jalan di bawahnya. Namun, para bonek ini punya cara lain

DSC02509 DSC02510

Yang satu ini adalah foto terbaik yang kami dapatkan. Beberapa teman mengatakan, bahwa setiap orang yang pernah melihat foto berikut pasti iri dan menilai paling bagus.

DSC02511 

Berikut adalah foto ketika kami melewati oro-2 ombo.

DSC02512 DSC02513 DSC02514

DSC02515DSC02516 DSC02517

Dari oro-2 ombo kembali ke bukit cinta dan turun ke danau Ranu Kumbolo.

DSC02520 DSC02523 DSC02528

Ternyata yang sampai ke danau Ranu Kumbolo tidak hanya pendaki saja, tetapi juga para pecinta sepeda gunung juga berpapasan dengan kami.

DSC02529 DSC02530

Dari Ranu Kumbolo sekitar pukul 3 sore, kami berkonsentrasi untuk secepatnya sampai di Ranu Pane kemudian langsung kembali ke rumah masing-2. Sebenarnya, menurut kebiasaan para pendaki seharusnya kami menginap semalam lagi di Ranu kumbolo atau di pos pendakian Ranu Pane. Namu, ternyata tenaga cadangan kami masih mumpuni untuk menuju kamar tidur dengan kasur empuk dilengkapi bantal guling yang selama 2 malam tidak kami rasakan.

 

Demikian foto-2 kali ini, semoga di lain waktu saya masih diberi ijin oleh Tuhan untuk pamer lagi dan mendaki gunung lagi.

Silahkan lanjut baca, jangan lupa komentarnya...

Thursday, 13 November 2008

Award Pertamaku

. Thursday, 13 November 2008 .

Selamat pagi Indonesia (waktu tulis artikel ini masih pagi)....Kesempatan kali ini saya tidak akan mempostingkan foto-2 indah alam Indonesia. Hitung-hitung buat selingan agar tidak jenuh dalam kegiatan blogging. Jumat pagi saya membuka notebook di perpustakaan kampus, kemudian langsung saya klik ikon mozilla firefox(salah satu browser internet). Pada bagian navbar browser, saya ketikkan http://alam-indonesia.blogspot.com, alamat blog ini. Pada bagian chatbox saya menemukan pesan dari Djava yang menganugerahkan award kepada saya. Setelah saya kunjungi balik, ternyata benar nama saya ada di salah satu daftar.
Terimakasih sob atas awardnya, nanti pasti saya add linknya juga. Nah dari tadi saya bicara tentang award, saya belum menunjukkan bagaimana bentuk dari award tersebut. Di bawah ini saya tampilkan gambarnya :


Itu adalah award pertama saya. Bahkan ini saya dapatkan ketika blog saya yang lain, yang lebih dulu beredar di pasaran, belum mendapatkan satu award pun.

Terimakasih juga saya ucapkan kepada fasilitas wi-fi STIKOMP Surabaya yang kadang seperti Ferrari kadang seperti mobil Willy'z (mobilnya Ayah he...he...). Semoga saya diberi kesempatan oleh Allh S.W.T. untuk terus berkarya dan tidak cepat bosan dalammenulis blog.
Berikut ini saya tampilkan daftar blog yang akan menerima dan saya wajib meneruskan award ini. Memang tidak ada kewajiban untuk meneruskan, tapi untuk menyambung silaturahmi ke sesama blogger :
Rules :
* Put the logo on your blog.
* Add a link to the person who awarded you.
* Nominate at least 7 other blogs.
* Add links to those blogs on yours.
* Leave a message for your nominees on their blog

Kalau tidak mengerti artinya, silahkan buka kamus he...he...

Bahasa Indonesia :
*Pasang logo diblogmu
*Pasang link orang yang memberi award
*Nominasikan min.7 blog lain
*Pasang link mereka di blogmu
*Tinggalkan pesan di blog mereka tentang award ini

URL Logo yang dipasang di blog :
Silahkan letakkan kursor di atas award>>klik kanan>>copy image location. Pasang gambar di blog sobat.

Silahkan lanjut baca, jangan lupa komentarnya...

Tuesday, 11 November 2008

Indahnya Ranu Kumbolo, Semeru Jilid 1

. Tuesday, 11 November 2008 .

bestKumbolo

Salam Lestari.

Akhirnya waktu yang saya tunggu-2 datang juga. Saya menunggu karena postingan saya pada kesempatan ini akan menampilkan foto-2 terindah ketika saya berada di Ranu Kumbolo. Ranu artinya danau. Danau ini terletak dalam jalur pendakian ke Gunung Semeru. Jadi walaupun kita berniat hanya melihat atau bermalam di danau ini, kita tetap harus ijin ke pos pendakian di desa Ranu Pani, desa terakhir sebelum Semeru.

Foto di samping adalah salah satu view yang diambil dari sisi timur Ranu Kumbolo atau Ranu Gumbolo. Unutuk sampai di danau yang eksotis ini, kita dapat berjalan kaki sekitar 3-4 jam atau menggunakan sepeda. Ingat sobat, artikel ini memberi efek samping pada pembacanya, yaitu “kepingin” alias ingin segera ke sana.

gapura

gapura2

Sebelum sampai di pos pendakian Ranu Pani, jangan lupa untuk mengurus ijin di pos perhutani yang berada di kota Tumpang, Malang. Dua foto di atas adalah gapura yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU”. Gapura ini pasti kita lewati ketika dalam perjalanan menuju pos pendakian Ranu Pani. Untuk menuju ke sana, sobat bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa jip yang mangkal di pasar Tumpang.

sabana 

Jangan sekali-kali mengantuk atau bahkan tertidur karena sobat akan kehilangan pemandangan yang indah di kanan kiri jalan.

pos

Akhirnya sampai juga kami di pos pendakian. Oh iya saya belum memperkenalkan siapa saja yang go with me. Seperti biasa saya, Ayah, Mas Heru, dan adik Mas Heru yang bernama Riska serta teman sekelasku IPA 1 SMAN 1 Gedeg Mojokerto, Erik.

kumbolo

Ini dia danau indah nan menawan hati Ranu Kumbolo. Sebenarnya masih banyak pengalaman kami ketika dalam perjalanan ke danau ini, tapi keadaan alam tidak memungkinkan karena hujan turun mengguyur sepanjang perjalanan.

kumbolo2

Indahnya Ranu Kumbolo dengan backgorund dua bukit yang gagah. Maaf, pada waktu itu kami bangun terlambat sehingga matahari yang terbit di antara dua bukit itu terlewatkan. Suhu di sekitar danau ini berkisar antara 5-7 derajat celcius, cukup membuat sobat menaruh kedua tangan di dada. Bahkan suhu akan mencapai 0 derajat celcius di musim kemarau.

kumbolo3

Ada yang mancing tuh. Memang kita bisa memancing di danau ini. Jadi, apabila sobat berhobi memancing dan ingin suasana baru, maka danau ini saya rekomendasikan.

kumbolo4

Berhubung waktu itu adalah musim hujan, maka tidak banyak pendaki yang terlihat, mungkin hanya 10 tenda di sekitar Ranu Kumbolo. Angka ini akan berubah menjadi 30 kali apabila sobat mendaki pada tanggal 17 Agustus atau disebut dengsan hari kemerdekaan Republik kita tercinta Indonesia.

kumbolo5

Foto di atas diambil dari dataran yang lebih tinggi, yaitu Tanjakan Cinta atau Bukit Cinta. Mengapa disebut demikian? Menurut kepercayaan beberapa orang, jika kita mendaki tanjakan cinta tanpa menoleh ke belakang (arah Ranu Kumbolo) dan kita memikirkan orang yang kita cintai, maka kemungkinan akan bersemi benih-2 cinta (ciye…puitis banget).

oro2ombo

Setelah kami sampai di akhir Bukit Cinta, kami dihadapkan oleh indahnya ciptaan Allah. Oro-oro Ombo (3O/triple O) adalah padang rumput yang sangat luas. Untungnya kami di sana ketika musim hujan, sehingga rumput masih segar dan berwarna hijau.

oro2ombo2

Jika sobat sudah merasa ada efek samping karena foto-foto di atas, maka saya anjurkan untuk cepat-2 pergi ke sana. Jika belum, maka lihat foto-2 di bawah ini.

letusan

Letusan Semeru dapat kita saksikan dari area triple O ini.

situs

situs3

Setelah kami puas berjalan-jalan, maka kami kembali ke Ranu Kumbolo di mana tenda kami berdiri. Di atas adalah foto situs peninggalan masa lalu yang berada di bawah tanjakan cinta atau di sebelah barat Ranu kumbolo. Sepertinya batu itu ada tulisannya, coba kita lihat lebin dekat.

situs2

Waduh ini sih tulisan “Aksara Jawa”, terkhir saya mendapat pelajaran ini sewaktu SMP.

persiapan

Matahari mulai meninggi, kami harus segera pulang karena keesokan harinya kami harus melanjutkan kegiatan sehari-hari, yaitu bersekolah bagi saya, Riska, dan Erik, serta bekerja bagi Ayah dan Mas Heru.

foto

Sebelum berangkat, foto dulu ah…

dekstop

Melihat foto di atas jangan dipikir saya ambil dari tema dekstop komputer saya. Ini asli saya ambil dari kamera HP saya yang sudah beresolusi 2 megapixel. Sayangnya HP tersebut diambil orang tidak bertanggung jawab hikz…hikz…

bestKumbolo

Yang satu ini adalah salah satu jepretan terbaik terhadap Ranu Kumbolo (sepertinya sama seperti foto pertama). Sebenarnya saya ingin mencari foto yang asli tanpa ada tulisannya, tapi koq tidak ketemu.

 sabana2

Setelah melapor ke petugas pos pendakian bahwa kami sudah pulang, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Mojokerto. Sebelum sampai pada gapura seperti foto yang ada di awal artikel ini, kami disuguhkan pemandangan sabana lereng Gunung Bromo yang berada di komplek Gunung Tengger.

sabana3

Ini juga salah satunya. Indah bukan?

bathok

Sebelum meneruskan perjalanan, kami memutuskan untuk melihat Gunung Bromo. Namun, sayangnya cuaca tidak mendukung. Kabut mulai menebal dan hujan turun dengan malu-malu kucing.

Inilah akhir perjalanan saya di Semeru, tepatnya Ranu Kumbolo. Silahkan tunggu perjalanan saya di Semeru pada jilid berikutnya dan perjalanan saya yang lain.

Lestarikan alam Indonesia

Silahkan lanjut baca, jangan lupa komentarnya...

Thursday, 6 November 2008

Lawu, Gunung Penuh Mistis

. Thursday, 6 November 2008 .

Saya rasa tepat judul kali ini diberi nama seperti itu karena gunung yang menjadi perbatasan antara Jatim dan Jateng ini sering dikunjungi oleh orang-2 yang melakukan ritual. Apa tujuan mereka? Spertinya pertanyaan ini lebih baik dijawab oleh para pelakunya. Pada kesempatan ini saya akan menunjukkan beberapa foto yang berhasil dihimpun menggunakan kamera HP beresolusi 1,3 megapixel dan kamera pada PDA punya Ayah. Jadi mohon dimaklumi apabila beberapa foto tidak begitu jelas.

gapura

Cemoro Sewu, itulah jalur pendakian yang saya lewati bersama Ayah, Mas Heru, Mas Gatot, dan Mas Anas. Jalur yang masih berada di wilayah Jatim ini bersebelahan dengan jalur Cemoro Kandang yang berada di wilayah Jateng.

Untuk menuju kedua tempat ini, sobat bisa menuju ke tempat pariwisata Telaga Sarangan di Magetan, Jatim apabila sobat dari arah Jatim. Sayangnya kami tidak memiliki rencana untuk mengunjungi telaga tersebut, sehingga tidak ada koleksi fotonya.

Jika sobat memang berniat untuk mendaki atau sekedar berwisata ke daerah Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang, maka jangan lupa untuk mencicipi sate kelinci yang khas. Kedua jalur tersebut berjarak tidak lebih dari satu kilometer, dan di depan serta diantara kedua jalur tersebut sobat bisa menikmati sate hewan pemakan sayuran tersebut di warung-2 pinggir jalan sambil menikmati pemandangan yang indah dan hawa dingin pegunungan.

manjat

Foto di samping diambil dalam perjalanan menuju puncak. Terlihat beberapa teman pendaki dari tim lain juga berusaha melewati jalur yang licin ini. Di jalur Cemoro Sewu ini, jalur sudah diberi fasilitas tatanan batu untuk memudahkan orang ritual, walaupun kami para pendaki tidak begitu suka dengan jalur yang sudah dimodifikasi.

Tidak seperti jalur Cemoro Kandang yang landai tapi panjang, jalur ini bersifat pendek tapi menanjak dan membutuhkan waktu 3,5-4 jam untuk mencapai puncak Hargo Dumilah, sebutan untuk puncak Gunung Lawu.

pemandangan

Berhubung kami sampai di puncak malam hari, maka langsung saja saya tampilkan foto di pagi hari. Foto tersebut adalah pemandangan yang indah dan asri di sekitar puncak Gunung Lawu.

puncak

Puncak Gunung Lawu berbeda dengan puncak Gunung-2 lain yang mengerucut, Gunung ini memiliki bentuk puncak yang panjang, sehingga sobat akan kebingungan untuk mencari daerah yang tertinggi. Untung saja ada penghuni warung yang memberitahu kita bahwa puncak berjarak 15 menit dari warung tersebut.

Tunggu, Tunggu, Warung??? Iya benar, di puncak Gunung ini kita bisa menemui warung yang menyediakan beberapa pengganjal perut. Salah satunya adalah warung milik Mbok Yem yang berlokasi paling dekat dengan puncak. Sebenarnya warung ini disediakan untuk para peziarah.

 hargoDalem

Jalur Cemoro Sewu ini memiliki beberapa keistimewaan salah satunya adalah memiliki banyak situs peninggalan kerajaan dahulu kala. Foto di atas adalah petilasan prabu Brawijaya V yang diberi nama Hargo Dalem.

pemandangan2

Ini salah satu foto pemandangan juga yang berhasil kami jepret ketika dalam perjalanan pulang.

sendangDrajat1

sendangDrajat2

Kedua foto di atas adalah sumber air yang diberi nama Sendang Drajat. Jika sobat ingin melanjutkan perjalanan pulang, maka jangan lupa membawa air dari sini karena air akan kita dapatkan lagi ketika sampai di pos pendakian. Begitu juga apabila sobat mendaki, maka bawalah air dari pos karena air berikutnya akan ditemukan di sumber air ini.

bendera

bendera2

Dalam perjalanan pulang, kami masih banyak menemukan situs-2 kerajaan seperti pada kedua foto di atas.

puncak

Foto-2 berikut ini kami ambil pada pendakian kedua kami. Kali ini saya berangkat bersama Ayah, Mas Heru, dan Mas Gemblung yang pernah berkenalan dan bertukar nomor HP dengan Ayah ketika bertemu di Gunung Welirang.

Foto di samping saya ambil tepat di tugu yang berada di tempat tertinggi di Gunung Lawu ini. Terlihat ada beberapa teman dari kampus UNS sedang duduk dan bercengkerama dengan kami.

Foto ini diambil ketika puncak sedang diselimuti kabut, sehingga gambar tidak terlalu jelas (alasan…ngomong saja kalau HPnya jelek he…).

angkat

angkat2

Foto-foto di atas diambil ketika kami menolong salah satu pendaki yang pingsan di puncak. Yang jadi pertanyaan bagi kami, mengapa teman-2 pendaki yang pingsan tersebut tidak bisa menggotong, padahal jumlah mereka 30 orang. Di antara 30 orang tersebut terdapat beberapa tim SAR atau lebih tepat dipanggil senior dari pendaki yang pingsan tersebut.

gemblung

Sepertinya kita harus berpisah dulu ya karena foto-2nya habis nih. Maklum pada waktu awal pendakian kami masih belum tertarik tentang fotografi. Setelah mengalami banyak pendakian sampai sekarang, sepertinya kami khususnya saya tertarik dengan fotografi. Semoga saja Ayah membeli kamera (upz…keceplosan, waduh kan Ayahku tahu situs/blog ini).

Salam rimba, Salam lestari (salamnya anak PA SMANSA Mojokerto), dan tetap lestarikan alam Indonesia.

Silahkan lanjut baca, jangan lupa komentarnya...

Monday, 3 November 2008

Parade Welirang, Arjuna-Welirang Jilid 1

. Monday, 3 November 2008 .

Parade Welirang, Arjuna-Welirang Jilid 1, judul ini saya buat karena foto-2 kesempatan kali ini saya gunakan untuk menampilkan pemandangan Gunung Welirang yang diambil dari dua waktu. Mengapa harus saya kumpulkan jadi satu? karena setiap pendakian ke sana saya hanya mampu memotret sedikit gambar.

Foto di samping adalah foto yang diambil dalam perjalanan di jalur Welirang. Pemandangan jauh tersebut memperlihatkan gagahnya Gunung Penanggungan. Saya rasa supaya adil, karena pada postingan yang lalu saya sudah memperlihatkan foto Gunung welirang yang diambil dari puncak Gunung Penanggungan.

Waduh Si Ayah ini, artikel baru dimulai sadah muncul saja.

Foto di atas diambil bukan karena salah satu dari kita kentut, tapi karena bau belerang yang sangat menyengat, sehingga hidung kami harus ditutup.

Wah ini nih yang "bahurekso"/penunggunya Welirang he...he...sorry mas heru, habis seperti hantu sih.

Jika sobat pembaca ingin mendaki atau sekedar ingin tahu bagaimana kehidupan para pencari belerang, maka sobat dapat mengetahuinya di pondok lirang seperti yang ditampilkan di samping.

Pondok ini dibuat seperti perkampungan yang berjajar rumahnya. Pondok-2 yang ada terbuat dari jerami, kayu, dan dedaunan yang ada di sekitar.

Lalu apa fungsinya pondok-2 tersebut? Fungsinya yang utama adalah digunakan untuk penginapan pencari belerang apabila mereka melakukan kegiatan. Selain itu, apabila para pendaki sedang turun untuk menyetor belerang yang didapatkan otomatis pondok mereka kosong. Kesempatan itulah yang digunakan para pendaki untuk bermalam jika mereka tidak membawa tenda atau sampai di tempat ini kemalaman.


Singkat cerita pada pagi harinya tim ekspedisi tanpa nama ini sampai di puncak gunung yang bertetangga dengan Gunung Arjuna. Sampai di puncak kok fotonya seperti lagi menunggu bus lewat???

Sepertinya Ayah dan Mas heru sedang tidak akur tuh karena malamnya mereka berdebat tentang siapa yang kentut he...he...cuma bercanda.

Ngomong-2 apa tidak sakit tuh pantat duduk di atas batu yang lancip dan hangat-2 panas. Oh iya, ngomong soal panas jika sobat berniat mendaki dan sampai di puncak, jangan sembarangan pegang batu karena beberapa di antaranya bersuhu lumayan tinggi.

Jadi sebaiknya sobat membawa sarung tangan atau apasaja yang bisa digunakan untuk melindungi telapak tangan dari panasnya batu.
Masih di tempat yang sama, Ayah sedang memberi wejangan kepada sepupu saya, Riska. Sepertinya tongkat yang dipegang itu tongkat wasiatsengihnampakgigi.

"Hai muridku, jangan lupa untuk merahasiakan ilmu yang telah aku berikan"kata Empu Djawul.

"Baik guru, aku akan menyimpannya dengan baik-baik agar rahasia ini tidak bocor"jawab Ken Riska.

Kira-kira seperti itulah dialog sepasang guru dan murid yang berhasil saya rekam menggunakan recorder terbaik saat itu.gelakguling



Lho kok kembali lagi ke pondok lirang? Maaf tadi lupa masang, kelewatan.

Si Riska ini apa tidak takut ditangkap polisi, kan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi sudah disahkan oleh anggota DPR.

Mentang-mentang kulitnya terbuatnya dari kulit beruang, jadi tidak kedinginan. Ngemeng-ngemeng, eh salah ngomong-ngomong soal dingin, di tempat ini adalah salah satu tempat yang suhunya terasa menusuk tulang apabila matahari mulai tenggelam. Kira-kira sekitar pukul 4 sore hawa dingin sudah dapat kita rasakan. Jadi saya sarankan agar sobat sampai di tempat ini dan sudah mendirikan tenda sebelum pukul 5 sore.

Kembali ke posisi semula, yaitu di puncak. Di puncak kita bisa menemui banyak lubang yang mengeluarkan asap berwarna putih. Salah satunya seperti foto di samping.

Jika telapak tangan kita coba taruh di atasnya, maka 99,99% sobat akan menarik tangan karena suhunya lumayan panas.

Di puncak sobat akan menemui 2 kawah, yaitu kawah mati dan kawah yang masih aktif. Di dekat kawah yang masih aktif, kemungkinan sobat tidak akan betah berlama-lama, bahkan berfoto ria di sana. Alasannya suhu di sekitar kawah tersebut sangat menyengat dan membawa suasana "sumuk". Apa tuh sumuk? cari tahu saja artinya di paranormal paling laris di dunia "Mbah Google".

Sepertinya dari tadi saya menulis belum ada kalimat yang menyebutkan di mana kita akan mulai pendakian. Pendakian pada saat foto ini diambil dimulai dari jalur prigen, Pasuruan. Tepatnya sobat bisa cari terlebih dahulu tempat wisata Kakek Bodho atau hotel Surya (kalau tidak salah, maklum kan kami tidak ke hotelnya peace).

Sepertinya badan saya mulai kedinginan nih karena sewaktu artikel ini ditulis, saya berada di posisi 200 derajat lintang selatan dan 180 derajat bujur timur he...he...ngawur banget. Yang benar posisi saya berada di perpustkaan STIKOMP Surabaya.

Namun jangan kecewa karena di bawah ini ada beberapa foto yang masih tersisa. Dan jangan khawatir karena masih banyak artikel yang layak dibaca dan lihat di blog ini. Saya juga mohon doa agar saya bisa terus memposting foto-2 yang saya punya karena masih banyak pengalaman saya yang belum dipublikasikan, seperti di Gunung Semeru, Lawu, Kelud, Penanggungan, dan kegiatan lintas alam yang lain.

Silahkan lanjut baca, jangan lupa komentarnya...

Thursday, 30 October 2008

Pendakian pertama, Penanggungan Jilid 1

. Thursday, 30 October 2008 .

Alhamdulillah, setelah obrak-abrik notebook, dapat juga foto-2 pendakian pertamaku. Pengalaman pendakian pertama ini didasari oleh keinginan berada di puncak gunung setelah beberapa bulan sebelumnya, Ayah dan saya melihat keindahan Merapi.

Foto di samping adalah gambar ketika kami akan sampai di puncak. Kami ? Benar sekali, waktu itu saya mendaki bersama Ayah, sepupu saya Riska, tetangga saya Mas Rudi-Mas gatot-Mas Anas-dan Oki.

Belum-2 koq sudah ditampilin yang puncak sih Yub ? Ya maaf, wong yang kepilih pertama kali gambar ini, jadi langsung saja dicomot.

Untuk sampai di puncak kami memerlukan waktu sekitar semalam dari pos pendakian Tamiajeng, Trawas, Kab.Mojokerto. Tinggi gunung ini memang tidak seberapa, sekitar 1,5 Km Dpl (dari permukaan Laut).

Sebenarnya waktu yang kami tempuh cukup lambat, maklum kan masih pendakian pertama. Sedangkan Mas Gatot dan Mas Anas sudah berkali-kali ke sana. Sepintas, terlihat sepertinya puncak gunung itu kecil. Namun, setelah melewati area seperti gambar di atas, ternyata puncak Gunung Penanggungan sama lebarnya dengan dua lapangan sepakbola.

Ini salah satu isi dari puncak Gunung Penanggungan. Ada berjajar batu yang disusun sangat rapi. Namun, saya belum tahu apakah itu buatan masa lalu atau hasil karya para pendaki yang digunakan untuk bermalam di puncak.
Oh iya hampir lupa, kenapa saya memberi judul postingan ini “Pendakian Pertama, Penaggungan jilid 1” ? Karena saya akan membagi pengalaman mendaki ke Gunung Penaggungan tidak hanya sekali. Kalau tidak salah saya sudah merasakan puncaknya sekitar 10 kali, tapi masih jauh dari Ayah saya yang sudah muncak sekitar 20 kali lebih.
Baiklah kita mulai dari awal lagi ya…
Yang ini adalah suasana pagi di puncak bayangan. mengapa disebut puncak bayangan? Karena bentuknya sama dengan puncak. Dan tempat inilah yang seriing dijadikan basecamp oleh para pendaki. Kita bisa lihat pada foto di samping, ternyata banyak juga tenda yang berada di dekat kami.
Tendamu yang mana Yub ? Tendaku yang berwarna biru, dan di sampingnya itu saya memakai jaket putih dengan tangan di atas api karena kedinginan he…he…
Memang tenda pertama kami masih berbentuk segitiga yang proses membuatnya dijahit oleh tangan Ibuku dan Bu Har (tetangga yang berprofesi sebagai penjahit).
Gambar di atas adalah area puncak bayangan yang lebih luas dengan latar belakang Gunung Arjuna-Welirang yang masih samar terlihat.
Puncak Gunung Penaggunagan sebenarnya ya yang ada pada foto di atas itu. Dari puncak bayangan, perjalanan menuju puncak menghabiskan waktu sekitar 1-1,5 jam perjalanan.
Setelah dirasa cukup siap, kami mulai mendaki ke puncak. Semua perbekalan kami taruh di puncak bayangan, seperti tenda, tas, makanan berat. Sedangkan dompet, HP, makanan kecil, dan air minum kami bawa ke atas. Perlu diketahui bahwa di Gunung Penanngungan via jalur Tamiajeng, tidak akan kita temukan sumber air atau sungai. Oleh karena itu kami membawa air mineral dan air dari pos pendakian.
Jika sobat ingin ke sana, berhati-hatilah karena banyak batu licin seperti foto di atas. Batu-2 tersebut berada di jalur pendakian kami.
Di manapun kami berada, narsis tetap yang utama he…he…Di atas tadi disebutkan ada tujuh orang yang ikut mendaki, koq di foto cuma lima ? Yang satu (Ayah) lagi njepret kami dan yang satunya lagi (Mas Rudi) tidak melanjutkan perjalanan ke puncak, jadi masih ada di puncak bayangan menjaga perbekalan. Katanya sih boyoknya kumat.
Setelah berjalan dengan memeras keringat dan dengan bercucuran air mata (hiperbola banget), akhirnya kami sampai juga di puncak. Tidak lupa, hal yang pasti dilakukan oleh seorang pendaki juga kami lakukan, yaitu bernarsis ria he…

Bagaimana indah kan view-nya ? Makanya cepetan mendaki ke sana. Sobat dapat berfoto dengan latar belakang Gunung Arjuna-Welirang yang gagah.
Dari kejauhan kita dapat melihat Gunung Semeru yang sedang mengeluarkan awan panas. Rasanya ingin sekali saya ke sana. Jangan khawatir, keinginan saya itu telah terkabul. Saya sudah ke Semeru tiga kali, tapi lain kali saja saya tampilkan fotonya.
Wah awannya sudah naik tuh, kami memutuskan untuk kembali ke basecamp atau puncak bayangan.
Ternyata setelah sampai di tenda, Mas Rudi sudah memasak. Langsung saja kita lahap tuh mie instant dan kopi. Segerrr…

Berhubung setelah saya cari-2 tidak ada lagi foto pertama ke Gunung Penaggungan, maka saya akhiri dulu ya postingan kali ini. Lain waktu saya akan berbagi pengalaman saya di Penanggungan Jilid ke-??? dan Gunung-2, serta lokasi indah di Indonesia yang lain.
Lestarikan alam Indonesia…

Silahkan lanjut baca, jangan lupa komentarnya...

The First Journey, Gunung Merapi

.

Ulang tahun yang ke-17 sangat indah buatku. Ketika banyak temanku yang merayakannya dengan pesta, berlibur, dan sebagainya, aku diajak Ayah ke Gunung Merapi yang ada di Jogjakarta, tepatnya di kab. Sleman. Awalnya aku tidak menyangka bahwa ajakan Ayahku serius, karena pada waktu itu, Mei 2006, Merapi dalam status Awas. Namun, ketakutan itu berubah menjadi kepuasan ketika aku melihat pemandangan gunung dari dekat untuk yang pertamakalinya.
Gambar di samping adalah pemandangan Gunung merapi yang dilihat dari jalanan Kaliurang pada pagi hari. mengapa dari kaliurang ? Karena untuk yang pertama kali, kami masih belum mengerti apa itu pendakian. Jadi kami memutuskan untuk ke tempat wisata tersebut.

Berhubung kami sampai di Kaliurang selepas tengah malam, kami memutuskan untuk jalan-2 ke lokasi Gardu Pandang, tempat paling bagus untuk melihat Merapi, pada malam hari. Sengaja saya tidak menampilkan fotonya karena HP ayah saya masih jadul (jaman dulu), sehingga tidak bagus memotret tanpa cahaya lampu.

Lalu di mana kami menginap ? Karena waktu tidak memungkinkan untuk mencari penginapan, maka kami memutuskan untuk bermalam di masjid sebelah pos pengamatan Gunung Merapi. Pada gambar di samping tertera jelas tulisan yang terpotong “Masjid An Nawaroh” di sebelah kanan tulisan “Pos Pengamatan…”. Dan yang berjaket orange itu bukan jin, tapi saya.

Saya memiliki kesempatan tidur hanya satu jam karena keburu Subuh. Setelah kami melaksanakan sholat Subuh berjamah dengan warga sekitar, tentunya wudhu terlebih dahulu dengan air yang super dingin, kami memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri jalanan Kaliurang. Di sana terdapat sebuah rumah yang menurut informasi yang saya dapatkan, rumah itu adalah persinggahan derek keraton Jogjakarta. Mana fotonya ? Sepertinya kami lupa untuk mengambil gambarnya, sorry ya…

Pagi itu kami sempatkan untuk mengambil beberapa gambar pemandangan sekitar. Sekali lagi maaf apabila fotonya jelek karena pakai kamera HP yang masih jadul. Di bawah ini sederet gambar yang berhasil kami ambil :

Wah ternyata lumayan nekat ya kami…Sudah ada perintah untuk berhati-hati tetap saja kami datangi. Memang daerah ini adalah daerah aliran lava pijar yang melewati sungai Boyong.

Setelah melewati papan “Awas ..! Daerah Rawan Lintasan Awan Panas”, kami masuk ke area Gardu Pandang. Di tengah-tengah kita dapat menemukan ruang bawah tanah yang digunakan untuk menyelamatkan diri apabila awan panas datang tiba-tiba.

Ternyata di Gardu Pandang kami bertemu dengan teman-2 dari Universitas negeri Ygyakarta (UNY). Mereka juga berniat untuk melihat secara langsung fenomena awas dari Gunung merapi.

Gambar di atas masih diambil dari area Gardu Pandang. Ternyata Masya Allah…indahnya alam kita ini. Masih belum tertarik untuk melihat ke sana ? Baiklah saya tunjukkan beberapa foto lagi.

Sebelum kembali ke tempat penitipan sepeda motor, lho kok pakai sepeda motor ? Maklum mobil yang kami punya mobil perang Willy’z yang borosnya minta ampun. Jadi pakai sepeda motor saja. Ayah sempat bernarsis (berfoto) ria seperti foto di atas. Tuh awan panasnya kelihatan turun, lari……

Ternyata ada juga turis yang datang. Namun, mereka bukan turis yang langsung datang dari negaranya (Rumania), tapi mereka adalah mahasiswa pertukaran yang sedang menuntut ilmu di UGM (kalau tidak salah).

Itulah beberapa gambar yang berhasil kami abadikan ketika berada di kawasan wisata Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Tapi tenang saja masih ada beberapa foto yang terkena jepretan kami ketika dalam perjalanan menuju ke Borobudur, Prambanan, dan lain-2. Namun, foto-2 di tempat tersebut akan saya postingkan lain waktu.

Rencananya kami ingin berkunjung ke kediaman juru kunci Gunung Merapi, Mbah Marijan. Dalam perjalanan kami sempatkan sebentar untuk melihat semburan awan panas dari pinggir jalan. Ada juga beberapa orang yang berhenti di sana.

Akhirnya sampai juga kita di rumah Mbah Marijan, tepatnya di desa Cangkringan. Dalam perjalan ke sana memang suasana sangat menegangkan karena awan panas selalu berada tepat di atas kepala kami. Bagaimanapun juga, Mbah Marijan memang tidak juga merasa takut. Rumah Mbah Marijan terletak persis di sebelah masjid yang direnovasi. Letaknya satu komplek (satu pagar) dengan rumah Mbah Marijan.

Ternyata kedatangan kami masih kalah awal dengan para petinggi Bali. Dengan disajikannya dua cangkir teh kepada kami oleh seorang kerabat Mbah Marijan, kami menunggu kesempatan untuk ngobrol langsung dengan Mbah Marijan. Mbah Marijan tinggal dengan seorang perempuan, seorang lelaki, dan seorang gadis cilik seperti yang ada di pangkuan beliau pada foto di atas.

Akhirnya sampai juga kesempatan kami berbincang dengan Mbah Marijan. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, kami memutuskan untuk berpamitan kepada Mbah Marijan.

Dengan berpamitannya kami dengan beliau, berpamitan juga saya pada sobat semua. Insya Allah jika ada waktu, saya akan berbagi pengalaman yang kemungkinan besar membahas tentang gunung, tapi ada juga yang bukan gunung.

Blog ini adalah blog kedua saya. Blog pertama dapat sobat lihat di sini. Dan tak lupa saya berterimakasih karena telah membaca postingan pertama saya ini.

Silahkan lanjut baca, jangan lupa komentarnya...
 
alam-indonesia.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com